FOREXimf.com - Kamu mau tahu gak alat yang sederhana, tapi ternyata punya potensi gede untuk bantu kamu memahami arah pergerakan harga? Coba tebak? Yuhu~ Kamu betul, itulah trendline. Pola ini tuh sering dipake trader untuk bantu mereka dalam menentukan keputusan yang lebih mantap. Nah, kayaknya seru nih bahas soal trendline di pembahasan kali ini. Yuk, langsung aja!
Sebenarnya, Trendline Itu Apa, sih?
Jadi gini, pergerakan harga itu kan dinamis banget, ya, kadang naik, kadang turun. Naik-turunnya pun gak cuma satu level, tapi bisa berlevel-level, bisa bingung kalau dilihat gitu aja. Nah, di sinilah peran trendline muncul sebagai garis bantu yang digunakan buat menampilkan arah tren harga di pasar. Gampangnya sih seperti rambu gitu, penunjuk jalan sebaiknya gimana setelah ini.
Bukan sembarangan lho, garis yang ada itu tuh udah ada pakemnya, didasarkan atas titik harga tertentu yang ada di grafik, biasanya titik support ke titik support lainnya ataupun resistance ke resistance lain, jadi saling berhubungan.
Itu dia, trendline pun jadi berguna untuk melihat tren yang terjadi tuh tren apa sih? Apakah naik (uptrend)? Turun (downtrend), atau malah sideways (ranging)?
Mulai kebayang dong ya perannya trendline itu memang powerful banget, Guys, membimbing kita untuk memahami pergerakan pasar di depan mata.
Macam-macam Trendline
Nah, tadi sudah disinggung kan ya kalau trendline itu merupakan sebuah pola tren yang terjadi di pasar. Kita coba jabarkan lagi yuk di bawah ini:
1. Uptrend
Jikalau kondisi pasar lagi naik dan membentuk titik-titik higher high (HH) maupun higher low (HL), itu tandanya pasar lagi mengalami uptrend. Biasanya, para trader bakal cari peluang buy di area support trendline ini, karena trendline ditarik dari titik terendah satu ke titik terendah lainnya yang tentunya lebih tinggi. Jadi kayak curi-curi momentum gitu, Guys.
2. Downtrend
Kalau yang satu ini udah pasti kebalikan dari uptrend di mana harga sedang mengalami penurunan dan membentuk lower high (LH) dan lower low (LL), sebutannya ya downtrend, Guys. Di kondisi seperti ini, para trader bakal cari peluang jual karena trendline ini ditarik dari titik tertinggi ke titik tertinggi lain yang lebih rendah.
3. Sideways (Ranging)
Di sini momentum di mana pasar bergerak datar tanpa adanya perlawanan baik tren kenaikan ataupun penurunan, bisa kamu sebut sebagai sideways atau ranging. Biasanya, di sini trader bakal fokus ke area support ataupun resistance karena belum bisa menentukan langkah selanjutnya atas tren yang masih belum terlalu jelas.
Implementasi Trendline Dalam Trading
Sekarang, mari kita bahas bagaimana sih implementasi trendline dalam dunia trading. Praktisnya tuh seperti apa di lapangan, apa cuma garis-garis doang tanpa arah? Hehe, yuk langsung aja kita bahas!
1. Trendline Sebagai Support & Resistance
Nah, pas market dalam posisi uptrend, maka ini tuh sebuah pertanda dan kesempatan di mana kamu bisa langsung melakukan buy! Peran trendline di sini tuh mencari titik support dari titik terendah pada pembukaan yang berjalan, ke titik terendah lainnya yang lebih tinggi.
Sedangkan saat trendline menyentuh downtrend, maka kegunaan trendline berupa resistance, mencari titik tertinggi satu ke titik tertinggi lainnya yang berada di bawah untuk mencari kesempatan di mana titik yang tepat untuk melakukan sell!
2. Double Confirmation Dengan Indikator Lainnya
Setiap kamu melakukan strategi, cobalah untuk menggunakan indikator lain sebagai konfirmasi ganda. Hal ini hanya untuk memastikan bahwa apa yang sudah kamu susun itu sesuai dan tepat berdasarkan konfirmasi dari indikator lainnya yang ada. Beberapa indikator yang bisa kamu gunakan bisa kamu contek di bawah ini, ya:
- RSI: Pas RSI udah overbought dan harga nyentuh trendline resistance, pasar pun terlihat jenuh, maka kamu bisa menangkap sinyal ini sebagai afirmasi melakukan sell.
- Moving Average: Indikator ini berguna untuk memastikan bahwa pergerakan harga masih sesuai dengan tren yang ada atau malah sudah berubah arah.
3. Breakout atau Rebound?
Kalau harga ketemu trendline, ada dua kemungkinan: bakal tembus atau malah mantul. Nah, ini yang harus dipahami saat trading agar tidak salah strategi ataupun langkah.
- Kalau harga tembus, itu disebut breakout, berarti trendline udah gak mampu lagi membendung harga dan tren bisa aja nih berubah arah. Biasanya terjadi kalau ada volume besar, alias banyak trader yang ikut bersinergi mendorong harga ke arah yang berbeda. Kalau kamu oportunis, kamu bisa banget lho cari peluang buat masuk searah dengan tren yang tercipta.
- Kalau harga mantul, disebut dengan rebound, berarti trendline masih kuat! Harga cuma nyentuh sebentar terus balik lagi deh, tandanya tren masih bakal lanjut. Di sini kamu tetap bisa oportunis untuk ambil posisi yang lebih bagus lagi, searah dengan tren yang udah berjalan.
Apa pun itu arahnya, tetap harus oportunis, namun jangan sampai asal masuk market ya, bisa dibangun dulu strateginya untuk dapat mengambil keputusan yang tepat!
Penggunaan Trendline yang Tepat
Kamu gak perlu khawatir kalau masih bingung cara menggunakan trendline yang tepat tuh seperti apa, hal itu wajar kok. Nah, yang terpenting itu kamu mau untuk mempelajarinya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, apa pun itu kamu harus bangun strategi, namun harus klik dan tidak asal-asalan demi terciptanya keputusan yang tepat. Seiring berjalannya waktu, kamu bakal lebih mahir lagi dalam mengambil keputusan.
Berikut langkah-langkah yang dapat kamu ikuti untuk membentuk garis trendline yang akurat:
- Menentukan Titik-titik Penting Dari Market
- Kalau kamu lagi menghadapi uptrend, cobalah untuk menarik garis dari titik terendah ke titik terendah lainnya yang lebih tinggi.
- Nah, untuk downtrend, kamu bisa mencoba untuk menarik titik tertinggi satu ke titik tertinggi lainnya yang lebih rendah dari titik awal sebelumnya.
1. Menggunakan Setidaknya Dua Titik
Trendline setidaknya membutuhkan dua titik sebagai acuan, namun kamu harus ingat bahwa semakin banyak titik yang kamu pilih dan terlihat nyambung, maka hal tersebut semakin mengonfirmasi garis trendline-nya.
2. Biarkan Garis Terlihat Natural
Kamu gak perlu memaksa agar garis trendline harus pas banget sama semua harga yang ada, sampai-sampai fokusmu malah jadi berusaha merapikan barisan yang ada. Gak apa-apa kok, kalau misalnya garis harga melenceng sedikit, tapi kemudian langsung balik lagi, masih bisa dianggap valid dan gak harus dipaksakan sama dan sejajar. Ingat, pasar itu dinamis!
3. Coba Cek Timeframe yang Lebih Besar
Sebuah trendline akan terasa jauh lebih baik terlihat saat timeframe yang kamu periksakan lebih besar, seperti contohnya kamu mengambil timeframe H1 ke atas untuk menghindari fake breakout.
Hindari Kesalahan Ini Saat Menggunakan Trendline
- Jangan sampai kejadian kamu menarik trendline asal-asalan tanpa ada landasan ataupun alasan yang jelas, kamu harus tetap memperhatikan pola harga yang ada dan melakukan analisis atasnya, ya!
- Fokus ke timeframe yang kecil pun jangan dilakukan ya, karena bisa aja itu tuh sinyal palsu dan timeframe kecil juga tidak bisa mewakili tren pasar secara akurat. Jadi, gunakanlah timeframe yang lebih besar untuk melakukan konfirmasi.
- Cuma bersandar pada trendline tanpa melakukan konfirmasi ganda menggunakan indikator lainnya pun is a no no. Cobalah untuk melakukan konfirmasi kembali menggunakan indikator lainnya agar analisis yang kamu lakukan semakin tajam.
Trading Forex Lebih Mudah di QuickPro. Install Sekarang!
Kesimpulan
Nah, kelihatan kan betapa sederhananya trendline tersebut? Gitu-gitu powerful pula! Selama kamu menggunakannya secara maksimal, maka kamu akan mendapatkan hasil yang optimal pula. Kamu juga bisa belajar lebih lanjut melalui e-book FOREXimf untuk mendapatkan insight terbaik dari para ahli di bidangnya!
Selamat belajar, selamat cuan!